BANDUNG — Menanggapi berbagai opini dan diskusi publik yang berkembang terkait inisiatif pengembangan pendidikan pascasarjana ekonomi dan keuangan syariah berbasis digital di Menara Syariah, Jakarta, Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi (WRKMAA) Institut Teknologi Bandung Dr. A. Rikrik Kusmara menyampaikan tanggapannya.
“Dengan kerendahan hati kami mohon maaf atas munculnya berbagai isu yang berkembang,” ungkap Rikrik Kusmara, Minggu, 29 Juni 2025.
Pihaknya juga berterima kasih atas segala perhatian dari masyarakat dan alumni, yang menunjukkan kecintaan kepada ITB, sebagai institusi publik yang terus menjadi pilar penghela kemajuan bangsa.
Untuk menjernihkan berita dan opini yang berkembang, Rikrik menjelaskan secara rinci setidaknya 4 poin yang berhubungan dengan hal tersebut.
Yang pertama adalah bahwa sejak tahun 2007 ITB telah menginisiasi pengembangan program pendidikan pascasarjana keuangan dan perbankan syariah dalam rangka mendukung inisiatif penguatan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah.
“Sejak saat itu ITB terus melakukan kajian dan bekerja sama dengan berbagai pihak baik lembaga dalam negeri maupun luar negeri,” ungkap Rikrik.
Kemudian kedua, pada tahun 2022 diinisiasi pembangunan Menara Syariah sebagai pusat ekosistem ekonomi dan bisnis syariah terbesar di Asia Tenggara.
Selanjutnya sejak tahun 2024 Menara Syariah menginisiasi kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, dan pada tahun 2025 menawarkan kepada ITB untuk terlibat dalam pengembangan program multidisiplin ekonomi syariah berbasis digital.
Rikrik menyebutkan bahwa keterlibatan ITB dalam merespons inisiatif tersebut dilakukan dalam upaya meluaskan akses pendidikan, meningkatkan literasi, dan inklusi ekonomi serta keuangan syariah di Indonesia.
“Pada saat ini ITB sedang melakukan kajian awal terhadap tawaran tersebut, diawali dengan penandatanganan Nota Kesepahaman,” imbuh Rikrik.
Poin ketiga adalah ITB akan mengkaji ulang rencana kerja sama ini secara lebih komprehensif, selain aspek pendidikan juga mempertimbangkan isu sosial, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan, setelah memperhatikan dan mempertimbangkan berbagai masukan dari masyarakat, sivitas akademika dan alumni.
Terakhir, disampaikan bahwa ITB tetap akan mengembangkan program multidisiplin ekonomi syariah digital, program yang pertama ada di Indonesia, sebagai komitmen untuk menjadi institusi penghela kemajuan bangsa, dengan menggunakan fasilitas pendidikan yang telah tersedia di ITB Kampus Jakarta, Kampus Ganesha, Kampus Jatinangor, atau Kampus Cirebon.
“Mohon dukungan agar ITB dapat mengemban amanah pendiri bangsa menjalankan pendidikan unggul dan berdampak,” pungkas Rikrik.
