MAKASAR — Partai Golkar Sulawesi Selatan mulai menggerakkan mesin politiknya menyambut Musyawarah Daerah (Musda) yang akan datang.
Dalam situasi internal yang dinamis, DPD I dan DPD II Golkar se-Sulsel justru menekankan pentingnya konsolidasi dan etika berpolitik dalam agenda silaturahmi yang digelar di Hotel Gammara, Makassar, Sabtu (21/06).
Acara ini menghadirkan tokoh-tokoh sentral partai, termasuk Nurdin Halid (NH) dan Taufan Pawe (TP), dua figur yang sebelumnya sempat berseberangan namun kini menunjukkan sikap saling menghargai dan bersatu untuk kepentingan partai. Suasana forum penuh dengan narasi damai dan penyatuan visi menjelang proses Musda yang belum resmi dimulai.
Nurdin Halid yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, menegaskan bahwa seluruh kader wajib menjaga soliditas partai dan menahan diri dari langkah-langkah prematur yang bisa memicu perpecahan.
“Sampai hari ini belum ada panitia maupun Steering Committee Musda, bahkan jadwal resmi dari DPP pun belum diterbitkan. Maka tidak etis jika sudah ada manuver dukungan ke calon tertentu. Kita harus menghormati proses organisasi,” tegas NH.
NH juga menyampaikan pesan khusus dari Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, yang meminta agar semua kader fokus membesarkan partai di masing-masing daerah pemilihan. Targetnya jelas meningkatkan elektabilitas Golkar pada Pemilu 2029 dan mengembalikan kejayaan partai di Sulsel.
Namun yang menjadi sorotan utama bukan hanya arahan strategis, melainkan gestur damai antara NH dan Taufan Pawe, Ketua DPD I Golkar Sulsel saat ini.
Keduanya yang sempat berada dalam kubu berbeda saat Musda sebelumnya, kini tampak saling memuji dan menunjukkan keinginan kuat untuk memperkuat barisan partai.
“Kita doakan yang terbaik untuk Pak Taufan Pawe,” ucap NH singkat.
Sementara itu, Taufan Pawe pun tak kalah menghargai kehadiran NH. Ia menyebut NH sebagai ‘guru dan panutan’ dalam perjalanan politiknya. TP juga menegaskan bahwa forum ini diinisiasi oleh NH sebagai bentuk kebesaran jiwa untuk meredam ketegangan menjelang Musda.
“Beliau adalah mentor kami. Saya pribadi sangat menghormati dan menjadikan beliau sebagai teladan dalam berpartai. Forum ini adalah ruang penting untuk menyatukan langkah,” ujar TP yang juga anggota Komisi II DPR RI.
TP mengingatkan seluruh kader agar tidak terjebak dalam konflik internal menjelang Musda. Ia menekankan pentingnya membangun tim yang solid, apapun hasil musyawarah nanti.
“Siapapun yang dipercaya memimpin nanti, harus mampu merangkul semua kekuatan untuk kemenangan Partai Golkar di 2029, sesuai dengan arahan Ketua Umum DPP,” jelasnya.
Pesan-pesan kebersamaan dan penghormatan terhadap mekanisme organisasi menjadi benang merah dari pertemuan ini. Golkar Sulsel ingin menunjukkan bahwa dinamika partai tidak harus berujung pada perpecahan, melainkan bisa menjadi ruang evaluasi dan penyatuan kembali.
Dalam konteks politik lokal, keharmonisan antara NH dan TP dapat menjadi fondasi kuat bagi pembentukan konsensus menjelang Musda.
Meski arah dukungan masih belum terungkap, sinyal adanya koalisi internal mulai terbaca. Rekonsiliasi keduanya juga menumbuhkan harapan agar Musda berjalan damai tanpa friksi berkepanjangan.
Silaturahmi ini dihadiri oleh sejumlah Ketua DPD II dan pengurus strategis partai. Di antaranya Plt Ketua Golkar Barru Rahman Pina, Ketua DPD II Golkar Bone Fashar Padjalangi, Ketua DPD II Golkar Sidrap Zulkifli Zain, serta Ketua Harian DPD II Golkar Makassar Ismail.
Turut hadir pula sejumlah tokoh penting yang disebut-sebut masuk dalam bursa calon Ketua DPD I, seperti Ilham Arief Sirajuddin, Ketua Harian DPD I Golkar Sulsel Kadir Halid, serta Ketua AMPI Sulsel yang baru dilantik, Andi Nurhaldin.
Silaturahmi ini menjadi penanda bahwa Golkar Sulsel tengah membangun fondasi baru: bukan dari manuver politik semata, tetapi dari komunikasi terbuka dan komitmen kolektif untuk menguatkan barisan menuju 2029. Dalam dinamika partai yang kerap diwarnai friksi, langkah ini menjadi angin segar dan contoh bagi organisasi politik lainnya.
