MALANG — Psikolog Indira Ravly R., S. Psi., M. Psi., mengajak masyarakat untuk merenungkan kembali, tentang hidup yang kita jalani selama ini benar-benar berdasarkan kebutuhan, atau justru dikendalikan oleh gaya hidup yang semu. Ia menekankan bahwa manusia tidak mungkin hidup tanpa kebutuhan.
“Kebutuhan adalah fondasi dasar kehidupan. Namun yang sering terjadi, orang justru mendahulukan gaya hidup karena tekanan sosial, keinginan untuk diakui, atau demi eksistensi diri yang belum tentu sesuai kenyataan,” ungkapnya pada Sabtu, 21 Juni 2025, dilansir RRI.
Ravly menjelaskan, kebutuhan manusia digambarkan melalui Hierarchy of Needs dari Abraham Maslow. Tangga kebutuhan ini dimulai dari kebutuhan fisiologis seperti makan dan tempat tinggal, dilanjutkan dengan kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki, kebutuhan akan penghargaan, hingga puncaknya yaitu aktualisasi diri.
“Masalahnya, banyak orang yang melompat-lompat dalam memenuhi tangga kebutuhan ini,” jelas Indira. “Contohnya, seseorang belum punya tempat tinggal layak, tapi memaksakan beli barang mewah demi dianggap sukses. Ini membuat aktualisasi dirinya jadi tidak otentik, karena tidak berasal dari pemenuhan kebutuhan sejati.”
Selain Maslow, Indira juga mengutip pendekatan psikologi humanistik dari Carl Rogers, yang memperkenalkan konsep Real Self dan Ideal Self. Real Self adalah siapa diri kita sebenarnya, sedangkan Ideal Self adalah diri yang ingin kita tampilkan atau yang diharapkan orang lain.
“Ketika seseorang terlalu mengejar ekspektasi sosial dan mengabaikan dirinya yang sebenarnya, maka ia akan terjebak dalam ketidakseimbangan psikologis,” jelasnya. “Ia mungkin diterima di lingkungan sosial, tapi secara batin tidak pernah merasa cukup.”
Ravly juga menyoroti fenomena gaya hidup yang didorong oleh validasi sosial. “Misalnya, ada anggapan: kalau belum punya mobil berarti belum sukses. Padahal belum tentu kebutuhan akan kendaraan itu mendesak. Akhirnya orang memaksakan beli mobil lewat pinjaman, utang, atau bahkan pinjol. Gaya hidup seperti ini bisa berujung pada kecemasan, depresi, bahkan gangguan psikologis lainnya,” tambahnya.
Fenomena “healing” pun ikut dibahas. Ia menilai, istilah healing kini sering digunakan secara berlebihan. “Healing itu pada dasarnya proses penyembuhan. Tapi sekarang malah jadi semacam pelarian. Sering kita dengar, sedikit-sedikit healing, sedikit-sedikit check out. Padahal, tanpa kesadaran diri, kita hanya menunda masalah yang sama akan muncul lagi.”
Menurut Ravly, penting bagi individu untuk memiliki self-awareness, atau kesadaran diri, serta dukungan dari lingkungan terdekat untuk mengontrol gaya hidup dan keuangan. Salah satu langkah praktisnya adalah mencatat pengeluaran setiap bulan.
“Dengan mencatat, kita bisa melihat apakah selama ini uang kita habis untuk kebutuhan atau sekadar impulsif karena ingin terlihat seperti orang lain. Kalau kita tahu mana kebutuhan dan mana keinginan, hidup kita akan lebih tenang, lebih sehat, baik secara finansial maupun psikologis,” pungkasnya.
