SURABAYA – Jemaah haji kloter pertama berjumlah 376 dari Tulungagung tiba di Asrama Haji Debarkasi Surabaya sepulang dari Tanah Suci, Kamis, 12 Juni 2025 sekitar pukul 11.30 WIB.
Suasana haru mengiringi kedatangan mereka di Gedung Musdalifah. Petugas tampak membantu jemaah haji yang memiliki risiko tinggi (risti) terutama lansia.
Enny Astuti menceritakan tak memiliki kendala perjalanan spiritualnya di Tanah Suci. Hanya saja, dia menilai pelayanan serta sarana dan prasana dari pemerintah kurang memadai saat perjalanan dari Muzdalifah ke Mina.
Pasalnya, transportasi yang disediakan jumlahnya terbatas, sedangkan ada ribuan jemaah haji yang harus dilayani. Enny mengaku sempat tidak kebagian bus sehingga harus berjalan kaki sejauh tujuh kilometer.
“Yang kurang bagus (pelayanan) di Muzdalifah. Busnya tidak ada, hanya sedikit. Sempat enggak kebagian bus. Jalan kaki kurang lebih tujuh kilometer. Banyak orang,” kata Enny.
Meski berjalan di atas terik matahari yang menyengat tak menyurutkan ibadah Rukun Islam ke-5 tersebut. “Meski jalan tujuh kilometer tetap semangat,” jelasnya.
Sementara itu, Plh Sekretaris PPIH Debarkasi Surabaya Sugiyo menjelaskan kedatangan koloter pertama ada seremonial penyambutan. Namun, hanya 30 menit saja.
“Pada hari ini juga kami lakukan upacara untuk penyambutan karena ini kloter yang pertama yang dihadiri oleh berbagai instansi yang telah hadir pada hari ini,” kata Sugiyo.
Setelah proses penyambutan, para Haji akan dipanggil untuk pengecekan tas besar dan kabin. Barang bawaan jemaah itu akan akan dikirim melalui jasa angkut.
“Kami sudah siapkan jasa angkut setiap kloter itu ada 70 petugas yang akan membawa tas besar itu ke truk atau ke mobil penjemputan untuk yang Surabaya,” ucapnya.
Setelah pengecekan tas, mereka akan menerima Air zam-zam dan paspornya akan distempel sebagai bukti.
“Setiap jemaah mendapatkan air zam-zam sebanyak lima liter,” katanya.
JPNN
