BLITAR — Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka, Kak Komjen Pol. (Purn.) Drs. Budi Waseso, melakukan ziarah ke Makam Bung Karno di Blitar, Jawa Timur, Selasa, 4 Agustus 2026.
Ziarah tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian peringatan Hari Pramuka ke-65 Tahun 2026 sekaligus momentum untuk mengenang jasa para tokoh bangsa yang memiliki peran besar dalam perjalanan Gerakan Pramuka Indonesia.
Dalam kunjungan tersebut, Ketua Kwarnas didampingi Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Timur, Kak H. M. Arum Sabil, S.P., S.H., M.KL., bersama jajaran pengurus Kwarda Jatim.
Kehadiran jajaran Kwarda Jatim menegaskan kuatnya sinergi antara Kwarnas dan Kwarda dalam menjaga kesinambungan sejarah, nilai perjuangan, serta arah pendidikan kepramukaan di Indonesia.
Kak Budi Waseso menyampaikan, rangkaian peringatan Hari Pramuka ke-65 Tahun 2026 akan melibatkan sekitar 24.000 peserta dari seluruh Indonesia. Peserta berasal dari berbagai tingkatan kwartir, mulai dari kwartir ranting, kwartir cabang, hingga kwartir daerah.
“Berbagai kegiatan akan dimulai pada 13 Agustus 2026 dan menjadi rangkaian menuju puncak peringatan Hari Pramuka. Salah satu agenda penting adalah ziarah ke makam sejumlah tokoh bangsa yang dinilai memiliki jasa besar terhadap lahir dan berkembangnya Gerakan Pramuka,” ucapnya.
Kak Budi Waseso melanjutkan, ziarah diawali di Makam Bung Karno, Blitar. Pemilihan lokasi tersebut bukan tanpa alasan. Bung Karno merupakan Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus tokoh penting dalam sejarah berdirinya Gerakan Pramuka.
“Selain sebagai Proklamator, Bung Karno adalah pendiri Gerakan Pramuka. Beliau yang meresmikan Gerakan Pramuka pada 14 Agustus 1961 dan memberikan Panji Gerakan Pramuka. Karena itu, sudah sepatutnya generasi Pramuka terus mengenang jasa beliau,” ujarnya.
Kak Budi Waseso menambahkan, momentum ziarah tersebut juga menjadi pengingat bahwa Gerakan Pramuka tidak lahir secara tiba-tiba. Gerakan ini memiliki akar sejarah yang kuat dan tidak dapat dipisahkan dari perjalanan bangsa Indonesia.
Pada 14 Agustus 1961, Presiden Soekarno meresmikan Gerakan Pramuka sekaligus menganugerahkan Panji Gerakan Pramuka sebagai tonggak penting lahirnya organisasi kepanduan nasional.
Rencananya, setelah dari Makam Bung Karno, rangkaian ziarah akan dilanjutkan ke makam Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan dukungan mereka dalam membesarkan Gerakan Pramuka, serta makam Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia.
Kak Budi Waseso menegaskanm bahwa salah satu bentuk dukungan para pendahulu tersebut diwujudkan melalui penyediaan kawasan Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Cibubur yang hingga kini menjadi salah satu pusat kegiatan kepramukaan nasional.
“Lahan Buperta Cibubur yang menjadi kebanggaan Gerakan Pramuka saat ini merupakan wujud dukungan besar Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto. Tanpa jasa mereka, Gerakan Pramuka mungkin tidak memiliki kawasan perkemahan nasional sebesar yang kita miliki sekarang,” katanya.
Menurutnya, ziarah bukan sekadar kegiatan seremonial. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter dan pembelajaran sejarah bagi generasi muda, khususnya anggota Pramuka.
“Kita tidak boleh melupakan sejarah. Kita harus mengetahui siapa yang mendirikan Gerakan Pramuka, siapa Bapak Pramuka Indonesia, dan siapa yang turut membesarkan Gerakan Pramuka. Dengan mengenang jasa para pendahulu, kita belajar menghargai perjuangan mereka sekaligus melanjutkan cita-citanya,” tegasnya.
Lebih lanjut Ketua Kwarnas juga meyakini Gerakan Pramuka memiliki peran strategis dalam membentuk generasi unggul yang berintegritas, berkarakter Pancasila, serta siap menjadi pemimpin Indonesia di masa depan.
“Pramuka adalah wadah pendidikan karakter yang paling lengkap. Di sinilah nilai-nilai Pancasila ditanamkan sejak usia muda. Karena itu, kita harus terus menyemangati generasi muda untuk aktif mengikuti kegiatan kepramukaan, sebab merekalah calon pemimpin bangsa di masa depan,” katanya.
Dalam momentum Hari Pramuka ke-65, menurut Kak Budi Waseso, pendidikan kepramukaan juga terus diperkuat. Kegiatan ekstrakurikuler Pramuka telah ditetapkan sebagai salah satu kegiatan wajib di sekolah, sementara kurikulum pendidikan kepramukaan akan terus disesuaikan agar semakin relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan generasi muda.
“Dengan pendidikan kepramukaan yang semakin baik, kita berharap lahir generasi Indonesia yang unggul, berintegritas, cinta tanah air, serta mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju,” pungkasnya.
Sementara itu Kak Arum Sabil dalam keterangannya menilai kunjungan Ketua Kwarnas ke Blitar memiliki makna strategis. Istana Gebang dan kawasan Makam Bung Karno tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga menjadi titik refleksi untuk memperkuat karakter generasi muda.
Menurutnya, Gerakan Pramuka memiliki tanggung jawab untuk memastikan nilai-nilai perjuangan, nasionalisme, gotong royong, dan cinta tanah air terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Kehadiran Ketua Kwarnas di Blitar meneguhkan bahwa Gerakan Pramuka tidak pernah terlepas dari sejarah perjuangan bangsa. Dari tempat inilah kita belajar bahwa membangun Indonesia membutuhkan semangat, keteladanan, dan perjuangan yang tidak pernah berhenti,” kata Kak Arum Sabil.
Kak Arum menambahkan, di tengah derasnya perkembangan arus informasi dan perubahan zaman, Pramuka harus mampu mengambil peran lebih besar. Gerakan Pramuka tidak cukup hanya menjaga tradisi, tetapi juga harus menjadi kekuatan yang mampu menjawab tantangan generasi muda di era digital.
“Pramuka harus hadir di tengah perkembangan zaman. Kita perlu melestarikan sejarah sekaligus menghadirkan pendidikan kepramukaan yang relevan dengan kebutuhan generasi masa kini. Anak-anak muda harus memahami akar sejarah bangsanya agar memiliki pijakan kuat dalam menghadapi masa depan,” ujarnya.
Kak Arum juga menyebutkan bahwa ziarah ke Makam Bung Karno di Blitar menjadi penanda bahwa peringatan Hari Pramuka ke-65 tidak sekadar dirayakan melalui kegiatan seremonial.
“Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi ajakan untuk kembali menengok sejarah, menghormati para pendahulu, sekaligus memastikan Gerakan Pramuka terus bergerak melahirkan generasi yang berkarakter, berjiwa kebangsaan, dan siap mengabdi bagi Indonesia,” pungkasnya. **
