SUNGAILIAT — Istilah “toxic relationship” atau hubungan beracun seringkali diasosiasikan dengan romansa, namun kenyataannya, hubungan tidak sehat ini dapat merajalela di berbagai lini kehidupan, termasuk pertemanan dan keluarga.
Hal ini diungkapkan oleh Andrea Nuzulia, M.Psi, Psikolog (Psikolog Klinis Anak, Remaja, dan Dewasa), dalam program “Dear Psikolog” di Programa 1 RRI Sungailiat. Ironisnya, seringkali individu yang terlibat dalam hubungan ini tidak menyadari bahwa mereka sedang berada dalam lingkaran beracun.
Andrea Nuzulia menjelaskan bahwa toxic relationship memiliki beragam bentuk yang mungkin luput dari pengamatan. Beberapa di antaranya meliputi kekerasan, baik fisik maupun verbal; kontrol berlebihan yang membatasi ruang gerak individu; manipulasi emosional yang menggerus kepercayaan diri.
Kemudian pengabaian terhadap perasaan dan kebutuhan; ketidaksetaraan dalam memberikan dan menerima; serta persaingan tidak sehat yang justru menjatuhkan. Tak jarang pula, hubungan ini ditandai dengan perilaku meremehkan atau mengambil keuntungan sepihak, yang secara perlahan mengikis harga diri dan kesejahteraan mental.
Dampak toxic relationship sangat merugikan, tidak hanya pada kesehatan mental tetapi juga fisik. Korban dapat mengalami stres kronis, kecemasan, depresi, hingga masalah psikosomatis.
“Pentingnya kesadaran akan ciri-ciri ini menjadi langkah awal untuk melindungi diri..”ungkapnya.
Andrea menekankan bahwa mengenali tanda-tanda tersebut, meskipun sulit, adalah kunci untuk dapat keluar dari lingkaran destruktif ini dan mencari dukungan yang diperlukan.
Pengalaman terjebak dalam toxic relationship juga dirasakan oleh warga Sungailiat. Nur, salah seorang pendengar, berbagi kisahnya pernah mengalami hubungan beracun dalam pertemanan.
“Saya lebih memilih dengan menghindari pertemanan, alias tidak masuk lagi dalam circle tersebut,” tutur Nur, menunjukkan tindakan nyata dalam melindungi dirinya dari dampak negatif.
Keputusan Nur ini merefleksikan pentingnya keberanian untuk mengambil jarak dari hubungan yang merugikan, demi menjaga kesehatan mental dan emosional.
Andrea mengharapakan bahwa penting bagi setiap individu untuk lebih peka terhadap dinamika hubungan yang dijalani, baik dengan pasangan, teman, maupun keluarga.
Jika menemukan adanya tanda-tanda toxic relationship, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional dari psikolog atau konselor. Melindungi diri dari hubungan beracun adalah bentuk investasi penting untuk kesehatan jiwa dan kebahagiaan jangka panjang.
RRI
