JAKARTA — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menargetkan Indonesia bebas dari penularan HIV dan penyakit infeksi menular seksual (IMS) pada tahun 2030.
Upaya yang dilakukan mencakup peningkatan edukasi, pemeriksaan sejak dini, serta pengobatan yang tepat untuk menekan jumlah kasus yang masih tergolong tinggi di Indonesia.
Berdasarkan informasi dari situs resmi Kemenkes, Indonesia saat ini menempati posisi ke-14 di dunia untuk jumlah orang yang hidup dengan HIV (ODHIV) dan posisi ke-9 untuk kasus infeksi baru HIV.
Diperkirakan pada tahun 2025 terdapat sekitar 564.000 orang yang hidup dengan HIV, namun baru 63 persen yang sudah mengetahui status kesehatannya.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 67 persen telah menjalani pengobatan menggunakan antiretroviral (ARV), dan hanya 55 persen yang berhasil mencapai kondisi viral load tersupresi, yang artinya virus tidak terdeteksi dan risiko penularannya sangat kecil.
Untuk mencapai eliminasi HIV dan IMS, pemerintah menargetkan capaian 95-95-95 pada tahun 2030. Artinya, 95 persen orang dengan HIV mengetahui statusnya, 95 persen dari mereka mendapatkan pengobatan, dan 95 persen dari yang diobati berhasil mencapai kondisi viral load tersupresi.
Saat ini, layanan pemeriksaan HIV telah tersedia di 514 kabupaten/kota, layanan IMS di 504 kabupaten/kota, dan layanan tes viral load di 192 kabupaten/kota.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes, dr Ina Agustina, menyampaikan bahwa sebagian besar kasus HIV di Indonesia terkonsentrasi di 11 provinsi prioritas, yaitu DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Bali, Papua, Papua Tengah, Sulawesi Selatan, Banten, dan Kepulauan Riau.
“Penyebaran kasus HIV secara nasional banyak terjadi di populasi kunci seperti laki-laki seks dengan laki-laki (LSL), waria, pekerja seks perempuan, dan pengguna napza suntik. Tetapi di Papua, penularan sudah menyebar ke populasi umum, dengan prevalensi mencapai 2,3 persen,” jelas dr. Ina dalam siaran resmi Kemenkes, Selasa, 24 Juni 2025.
Dalam tiga tahun terakhir, meskipun angka kasus HIV aktif tidak menunjukkan kenaikan signifikan, jumlah kasus IMS justru meningkat, terutama pada kelompok usia produktif 25-49 tahun.
Data dari Kemenkes menunjukkan, terdapat 23.347 kasus sifilis sepanjang tahun 2024, dengan mayoritas adalah sifilis tahap awal sebanyak 19.904 kasus, dan 77 kasus merupakan sifilis kongenital yang ditularkan dari ibu ke anak.
Selain itu, penyakit gonore juga tercatat cukup tinggi dengan total 10.506 kasus, paling banyak ditemukan di wilayah Jakarta.
“IMS ini bukan hanya masalah kesehatan pribadi, ini masalah kesehatan masyarakat. Sebab, IMS menjadi pintu bagi penularan HIV, dan kasus terbanyak terjadi di usia produktif bahkan mulai meningkat pada usia remaja 15-19 tahun,” tegas dr. Ina. **/BeritaSatu
